Buku Tamu
Asal-usul Nama Jepara
Konon pada zaman dahulu Gunung Muria dan wilayah yang ada disekitarnya merupakan sebuah pulau yang terpisah dengan Pulau Jawa. Pada saat itu wilayah ujung barat Gunung Muria ini baru dihuni oleh beberapa puluh orang. Mereka tinggal di kawasan tanjung atau tanah yang menjorok kelaut. Mereka memilih bermukim dipinggir pantal agar mudah mencari Ikan. Pada suatu saat ada seorang pengembara yang melintas ditanjung tersebut. Ketika itu, la melihat beberapa orang nelayan sedang duduk melingkar membagi ikan hasil tangkapannya dipinggir pantai.
Cara membaginya menurut pengembara adalah dengan membagi satu-satu, kemudian ditambahkan lagi satu-satu hingga jumlah ikan itu habis terbagi. Cara membagi seperti itu dalam bahasa Jawa adalah ‘poro Mereka membagi kan itu secara adil dengan mempertimbangkan besar dan kecil serta jumlah ikannya. Ketika pengembara ini bertemu dengan orang lain la bercerita bahwa ia baru saja melewati daerah dipinggir pantai yang dia sebut Ujungporo. Sebab di tanjung atau ‘ujung tersebut ia melihat ada nelayan yang sedang membagi-bagi ikan atau ‘poro”.

Jepara Dalam Catatan Sejarah
Asal nama Jepara berasal dari perkataan Ujung Para, Ujung Mara dan Jumpara yang kemudian menjadi Jepara yang berarti sebuah tempat pemukiman para pedagang yang berniaga ke berbagai daerah. Menurut buku “Sejarah Baru Dinasti Tang (618-906 M)” mencatat bahwa pada tahun 674 M seorang musafir Tionghoa bernama I-Tsing pernah mengunjungi negeri Holing atau Kaling atau Kalingga yang juga disebut Jawa atau Japa dan diyakini berlokasi di Keling, kawasan timur Jepara sekarang ini serta dipimpin oleh seorang raja wanita bernama Ratu Shima yang dikenal sangat tegas.
Memori Kolektif Bangsa
Ratu Kalinyamat
Pemerintah Kabupaten Jepara melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diskarpus) sedang mengajukan arsip-arsip tentang Ratu Kalinyamat untuk ditetapkan sebagai Memori Kolektif Bangsa (MKB) di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI)
Pengelolaan Manajemen Kearsipan
Layanan Kearsipan Kepada Masyarakat
Inovasi Kearsipan
Peran Budaya dan Kearifan Lokal
Perang Obor
Tradisi Perang Obor di Tegalsambi, Jepara, berfungsi sebagai arsip budaya yang merekam nilai-nilai kearifan lokal, ucapan syukur atas hasil panen, dan upaya tolak bala dari marabahaya serta penyakit. Tradisi ini masuk dalam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia dan menjadi catatan sejarah yang diwariskan turun-temurun sebagai bentuk identitas kolektif masyarakat setempat.

